Sabtu, 18 Mei 2013

Hikayat Cinta Dari Martapura


Pernah kawan ke pergi Martapura, kota yang dikenal dengan "galuh" nya yang berkilauan itu, atau dengan mesjid besar dgn kubah birunya yang menjulang itu. Martapura memang cantik, tapi tau kah kawan, dalam riak tenang sungai Martapura, dalam hembusan angin sejuk dari hulu Sungai, hikayat membawa kita berkelana tentang kisah cinta "Romeo dan Juliet" atau "Qais dan Laila" yang menggetarkan hati. disini di Martapura ini...

Seorang guru pernah bercerita padaku, ibarat sebuah hadis, "sanad" atau jalannya hadis itu bersambung dari satu penyampai ke penyampai lainnya. seperti itulah kisah cerita ini, tapi tak perlu lah aku beri tau siapa nama mereka, cukup kita ingat saja kisah dari jalinan cinta mereka.

Martapura puluhan tahun yang lalu....

Sungai Martapura berlenggok manis, tak jauh dari tepinya ada pesantren megah, "cahaya ilmu Martapura" yang terkenal, Darussalam namanya,atau pelan dan penuh irama para pengayuh "jukung" seperti menari menambah indah suasana Martapura hari itu...

Acil-acil yang menjajakan barang dagangannya dari satu jukung ke jukung lainnya, atau kawan mungkin sering melihat anak-anak kecil berbaju gamis, mendekap kitab dalam dadanya yang bergegas berjalan karena takut tertinggal dalam majelis ilmu, atau lelaki tua memancing ikan untuk lauk pauk anak dan istri di rumah, ya... begitulah Martapura, tiada berubah sama seperti dulu... dalam tenang aliran sungainya, dari sinilah cerita itu bermula....

Anak lelaki itu mengayuh jukungnya yang renta, nampak peluh keringat membias dari dahinya, namun ia tersenyum memandang anak perempuan yang ia bawa hari itu, anak perempuan itu pun tersenyum, senyumnya elok bukan buatan kawan, manis sekali....begitulah hari-hari berlanjut....

Waktu cepat berlalu... Kata orang, cinta itu "datang dari mata dan bersemayam turun ke hati"... beranjak dewasa, keduanya yang sudah seperti kakak beradik itu rupanya menyimpan rahasia yang sama, karena sering bertemu, ada bunga-bunga cinta yang bersemi, lelaki itu jatuh hati pada pandangan pertama.... jatuh hati dengan anak perempuan yang dulu sering di antarnya menuntut ilmu dengan jukung tuanya itu,.. O kawan, ia sekarang sudah menjadi gadis yang rupawan, tujuh belas tahun umurnya... sama seperti gadis Martapura lain yang cantik tak terbilang...tapi apa daya ia sadar, ia hanya lelaki miskin, anak pungut saudagar yang sudah dianggapnya sepertinya ayahnya sendiri, ia sadar ini cinta yang tak mungkin... di satu sisi sang gadis juga menyimpan rasa yang sama, jatuh hati dengan lelaki yang dianggap saudara oleh keluarganya, tapi ia hanya perempuan,mungkin tak lama lagi ayah nya akan menerima pinangan lelaki yang sederajat dengannya... ah cinta... begitulah cinta mereka cinta yang sunyi, cinta yang hanya disimpan dalam hati....

Satu hari, ayah sang gadis akan pergi berdagang, ia titipkan anak gadisnya pada orang yang sudah dianggapnya sebagai putranya sendiri itu... malam purnama tegak tegak dicakrawala... sang lelaki shalat malam di balik kamarnya, dan gadis itu pun shalat di kamar sebelah, keheningan mengantarkan syahdu malam itu...

Lelaki itu kemudian berkata, dari balik dinding... rindu yang tertahan sejak puluhan tahun lalu rupanya memaksa lidahnya untuk berkata "Adingku, permata hati ku, sudah lama abag menahan rasa dalam hati, rasa yang abang kunci dalam sukma ini, ding... ulun mengharamkan ding... mengharamkan badan ulun untuk perempuan, selain pian seorang ding, hanya pian seorang...". purnama tegak lurus diangkasa saat janji suci itu di ucap sang lelaki...tak lama berselang, suara sejuk terdengar dari bibir sang gadis, dari balik bilik kamar sebelah, " abang... ulun juga punya rasa yang sama, ulun mengharamkan bedan ulun di sentuh lelaki lain, selain pian seorang" malam makin mengulum senyumnya, tuhan memeluk janji itu dan mencatatnya diatas sana, tanpa mereka sadari sang ayah sudah dari tadi berdiam dibawah rumah, ia mahfum... pasti akan begini akhirnya, sudah lama ia sadari ada cinta di hati anak-anak itu, dari mata kawan... dari mata mereka saling menatap ia tau ada cinta bersemi sana....

Azan bergema, dan subuh pun datang... Allah memanggil tiap mahluknya untuk menuju kemengan... sang ayah datang mengetuk pintu, syukur diucapkannya saat ia tau anak perempuan semata wayangnya masih menjaga apa yang bukan haknya di serahkan sebelum saatnya tiba... setelah tau ayahnya rupanya memang tidak pergi dan mendengar janji yang yang diucap malam itu... air matanya meleleh, ia sadar cintanya mungkin akan segera berakhir, tak lama lagi ia mungkin akan dijodohkan dengan lelaki lain yang sederajat dengan ayahnya..., sang lelaki berusaha sekuat tenaga menguatkan hatinya, ia malu sudah begitu lancang mencintai anak seorang saudagar, sepertinya dunia akan segera berakhir baginya, hatinya bergetar karena malu dengan orang tua yang memungutnya itu, dan karena cintanya pada sang gadis...

Tapi ayahnya tau cinta bukan hal yang harus dipaksakan, orang tua yang bijak itu mengizinkan pernikahan mereka dengan syarat, lelaki itu harus pergi ke tanah Brunai karena disanalah asal dari ayahnya... ada warisan yang harus diambil untuk pernikahannya,..

Apa kawan berpikir cinta mereka sampai disini,.. bahagiakah mereka... o sobat ku yang baik hatinya, cerita cinta ini sesungguhnya baru di mulai setelah ini...

Terang tanah lelaki itu bersiap mengayuh jukungnya, gadis itu hanya bisa memandang dari kejauhan, seorang anak di mintanya memberikan gelang yang telah lama melinggar di tangannya yang putih itu, hanya itu yang dia punya untuk menguatkan hati lelaki pujaan hatinya itu... cinta mengalir jernih... seperti jernihnya Sungai Martapura...

Dua tiga bulan berlalu lelaki itu belum juga tampak di dermaga, cinta makin menguatkan hati gadis itu, tahun demi tahun berlalu, tak terasan delapan tahun telah berjalan sejak kepergian lelaki pujaan hatinya itu... cinta masih berbunga dalam hari-hari gadis itu, ayah sang gadis sudah tidak bisa lagi menunggu, baginya lelaki itu mungkin sudah beranak istri di tanah brunai, tak ada jalan lagi kecuali menerima pinangan orang yang sudah sering ia tolak, pilihan jatuh pada seorang anak tuan guru... gadis itu ingin bertahan, tapi kawan ia hanya seorang gadis yang lemah... tanggal pernikahan telah di tetapkan,...

Sungai Martapura mengalir jernih.... sejernih air mata yang mengalir di pipinya yang molek itu....

Martapura berhias,... janur kuning tegak menyambut pengantin baru, saat di sandingkan, mata sang gadis hanya melelehkan butir-butir bening, betapa menyakitkan menyambung kasih dengan orang yang tidak cintainya, ia pasrah... badannya kurus, wajahnya sembab seolah aura kecantikannya mulai menghilang, menguap karena rindu yang tak tertahankan...

sanak saudara penuh menyambut pernikahan yang telah lama mereka tunggu itu, shalawat dan rebana mengalir merdu sampai ke hulu...

O kawan... siapa yang datang itu, lelaki kurus baru merapat dari atas jukung, wajahnya sembab, berjuta rindu rupanya bergayut di pundaknya, shalawat tak hentinya membasahi bibirnya, ia tiba di tanah banjar yang dirindukannya... anak-anak bersorak riang menyambut kedatangannya, namanya seolah terlabung ke seluruh kampung... wanita itu terhenyak bukan buatan... nama itu..., nama lelaki yang dirindukannya itu, benarkah ia adanya..

Sang lelaki terhenyak Janur kuning menyambut kedatangannya, tapi bukan untuknya...

Hatinya bergetar saat melihat kedua mempelai telah bersanding, air matanya tumpah melihat inai yang terukir indah ditangan gadis itu, tangan yang dulunya melingkar gelang yang selalu ia bawa, penawar rindu selama di rantau orang, tapi apa daya cinta sepertinya tidak memihak padanya, ia roboh didepan khalayak umum... sang gadis tak kurang kagetnya, air mata yang meleleh tumpah seketika, rindunya tertahankan lagi, rindu yang yang dirasakan menyesakan dada, orang dicintainya datang justru saat harapan itu tak lagi datang... keduanya roboh seketika, air mata membasahi relung jiwa mereka...

Keduanya dibaringkan tak jauh dari dipan yang hanya di halat dua langkah, syahdu mengantarkan antara kesedihan dan rindu, lelaki itu berkata, "Adingku ... permata hatiku.. kenapa pian menikah dengan orang lain, bukan kah kita sudah berjanji... sehidup semati...", hening ruangan itu, tak ada yang berkata, Allah seakan menghentikan langkah dan lidah sipapun kecuali mereka berdua. gadis itu menjawab dengan suara yang bergetar " abang... ulun tiap hari menunggu pian, badan ini tidak pernah ulun biarkan disentuh kecuali untuk pian, kemana pian selama delapan tahun ini... ulun rindu..." lelaki itu menarik nafasnya " ading ku... bukan ulun ingkar akan janji ,... tiap malam dalam mimpi hanya ada pian seorang... dalam shalat ku, ulun hanya minta untuk bertemu pian...walaupun cuma sekali... pian tau ding... disana ulun di penjara, ulun berjuang dengan orang sebangsa mengusir Inggris di tanah seberang..., ulun merindukan pian tiap waktu, tidak pernah ulun halal kan badan ini kecuali untuk pian seorang ding..." suaranya begitu lemah.." gadis itu berkata " abang... cuma ada pian di hati ulun hanya pian yang boleh menyentuh ulun...." dan tuhan pun mendekap janji dan mimpi mereka, janji suci yang di ucap puluhan tahun yang lalu, Allah mengabulkan permintaan mereka " Ya Allah temukan kami walaupun hanya sekali"... Allah menyambut ruh dari jasad mereka,.. begitulah cinta kawan keduanya tak lagi bergerak hanya senyum yang dihias dibibir mereka... cinta mengantar mereka pergi ke alam sana, dan Allah mengabulkan janji mereka...Martapurapun menjadi hening....

Begitulah kawan, Sungai Martapura yang jernih itu menyimpan cerita, jika kawan datang ke tepiannya, ingatlah cinta yang tak pernah ternoda ini... disini... di Martapura ini...

Selasa, 14 Mei 2013

Kau dan Aku



Seperti menari dalam pusaran gelombang, Kau dan aku ….

Matamu dan mataku saling memandu

Senyummu dan senyumku berbuah madu

Desah nafasmu dan nafasku mengalir satu

Tanganmu bergayut mesra menyimpul hati kita jadi padu

Mimpi yang dua dijadikan satu …

Saling membantu

Saling menyatu

Satu …
Tanjung selor, 12 Mei 2013.

Sabtu, 11 Mei 2013

Senja di Pelabuhan Kecil


Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Chairil Anwar, Buat Sri Ajati, 1946

Kamis, 09 Mei 2013

Sisi Lain Dari Cinta




Cinta itu seperti racun
Racun yang mematikan
Dalam hitungan menit
Aku terkapar dan mati.

Cinta itu bagai jilatan api
Api yang sangat panas
Dalam sekejap mata
Jiwa ku melebur menjadi abu.

Cinta itu layaknya badai
Badai yang menakutkan
Dalam sekali sapuan
Aku terhempas didasar samudra.

Cinta itu laksana bongkahan Es
Menebar rasa dinginnya salju
Dalam sekali hembus
Aku membeku ribuan tahun didalamnya.

Kau dan cintamu adalah sama!

                                                                                                                                 Balikpapan. 2004

Rabu, 08 Mei 2013

PERBURUAN



Dikayuhnya biduk menyusur sungai selor
Riang hati bergema beradu dengan deru nafas nan menderu
Tatkala mimpi membawa tanduk payau bercabang emas
Pertanda pedatuan memberi salam dalam mimpi
Menitip pesan untuk anak cucu.

Sudah lama angin membawa khabar
Hikayat payau berbadan kekar
Menyusur tepi sungai melepas dahaga
Ah, ditatapnya dengan bangga
Sebuah istinggar bertengger angkuh ditepi  biduknya
Lekat-lekat dibersihkannya moncong senapan  
Sebutir pelor ditekannya dalam-dalam …

Begitu sampai ke tepi, siul menyiul
Menyeru-nyeru suara payau nan menggoda
Keringat mengucur turun dari dahi turun ke lengan,
Diusapnya perlahan peluh membasah tubuh …

Tak berapa lama kemudian terdengar suara gemerisik halus
Jejak mungil mulai menuruni sungai kecil
Dalam kerimbunan semak dan pepohonan
Di pandangnya seekor payau jantan dan dua betina
Bergantian menyibak sungai
Mencium-cium arah pertanda angin

Nafasnya makin memburu
Menahan seru pada titik waktu yang makin berlalu
Diarahkannya pelan-pelan moncong senapan itu …
Menahan nafas mengucap isim-isimman
Teringat nasehat tetua dahulu
Payau mahluk kendaraan purba bangsa bermaya dialam sana
Ketika picu hendak siap ditarik
Bau mesiu beradu dengan keringat
Pelurunya yang lapar menerbitkan air liur perlahan-lahan ….
Bersiap mengoyak daging dan bersarang diantara tulang

Wajahnya tiba-tiba pucat pasi ….
Keringat mengucur bak sungai membasah tubuh
Ketakutan menjalar membuat ngilu hingga meninggi diubun-ubun
Jatuh terkulai lemas keperkasaan istinggar yang betengger disemak belukar
Tak ada peluru sebijipun memecah sungai …

Payau pun berlalu dengan damai
Ia tak menyangka tak kuasa hatinya
Luluh runtuh rasa batinnya
Ketika merasa jumawa  hendak membawa tanduk payau
Silang menyilang bagai mahkota itu, dadanya ngilu …
Ketika  beradu keperkasaan di tepi sungai sunyi


Bola matanya tak mampu lagi beradu kuasa
Ketika sang empunya tanduk dengan tenang menyeringai senyum
Menyibak gigi-gigi emas bertandang rapi !
Maka taulah si pemburu, kepada apa ia menghadap
Sungai selorpun kembali sunyi ….

Tanjung Selor, 8 Mei 2013